Kasus Stunting di Indonesia Turun! Ini Upaya Pencegahannya

Kasus Stunting di Indonesia Turun! Ini Upaya Pencegahannya

Table of Contents

Tengkes atau stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak yang menjadi masalah serius di Indonesia. Meski begitu, dalam perkembangannya, kasus stunting di Indonesia konsisten menurun sejak tahun 2013 hingga akhir tahun 2024.

Ini menjadi bukti bahwa upaya pemerintah dalam melakukan percepatan penurunan stunting membuahkan hasil signifikan. Lantas, bagaimana perkembangan penurunan kasus stunting dari tahun ke tahun dan apa yang harus orang tua lakukan untuk mendukung masa depan anak?

Key Takeaways

  • Angka permasalahan tengkes atau stunting di Indonesia masih tergolong tinggi yang mana menyebabkan pemerintah gencar melakukan program percepatan penurunan stunting secara menyeluruh.
  • Kasus stunting di Indonesia menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun, yakni menurun secara signifikan sejak tahun 2013 hingga akhir tahun 2024, yakni 19,8%, yang mana mencapai target World Health Organization (WHO) di bawah 20%.
  • Upaya ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya orang tua dengan memberi gizi seimbang pada anak, rutin memeriksakan kesehatan anak, dan pendidikan terbaik di masa emasnya.

Kasus Stunting di Indonesia dari Tahun ke Tahun

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) secara resmi mengumumkan bahwa penurunan kasus stunting di Indonesia membuahkan hasil signifikan, yakni mencapai 19,8% di akhir tahun 2024.

Keberhasilan ini menjadi kabar baik karena Indonesia pertama kali mampu memenuhi target dari World Health Organization (WHO) bahwa kasus stunting harus di bawah 20%. Namun, di sisi lain, pencapaian tersebut tetap menyisakan pekerjaan rumah besar bagi seluruh pihak untuk menurunkan stunting secara menyeluruh.

Pasalnya, sekitar 1 dari 5 anak Indonesia masih mengalami kekurangan gizi kronis yang menghambat tumbuh kembang serta kemampuan kognitifnya. Jika Anda melihat data 10 tahun ke belakang, kasus stunting pernah berada di angka 37,2% pada tahun 2013 lalu semakin menurun di tahun-tahun berikutnya, yakni 27,7% pada tahun 2019 dan 21,6% pada tahun 2022.

Angka ini kembali menurun sebesar 21,5% pada tahun 2023 atau sekitar 4,8 juta anak Indonesia yang mengalami stunting. Pada tahun 2024, jumlah anak yang mengalami kondisi kekurangan gizi kronis ini menurun sebanyak 4,4 juta.

Begitu pun capaian pencegahan kasus baru juga berhasil melebihi target nasional, yaitu sebesar 377.000 dari 325.000. Target ini tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yang harus tercapai setiap tahun.

Tahun 2025, pemerintah menargetkan penurunan kasus stunting hingga 18,8%. Upaya ini menjadi langkah penting untuk mencapai target jangka panjang di tahun 2045 sebesar 5% yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya masyarakat sekitar dan orang tua.

Baca juga: Tabel Tinggi Badan Anak Stunting dan Normal Menurut WHO

Cara Mencegah Stunting pada Anak

Dukungan Anda sebagai orang tua sangat penting demi keberhasilan program percepatan penurunan kasus stunting di Indonesia. Berikut adalah hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah stunting pada anak.

1. Penuhi Gizi Seimbang di Masa Kehamilan

Stunting bukan terjadi setelah anak lahir, tetapi sejak masa kehamilan akibat kurangnya asupan gizi seimbang. Karena itu, ibu hamil perlu mengonsumsi makanan dan minuman bergizi yang mengandung protein hewani dan nabati, lemak, dan karbohidrat. 

Ibu hamil juga membutuhkan asupan vitamin dan mineral lengkap seperti zat besi, asam folat, yodium, kolin, magnesium, vitamin A, vitamin B, serta mengonsumsi air putih sebanyak 2-3 liter per hari.

2. Memberi ASI Eksklusif pada Anak

Ibu perlu memberikan nutrisi terbaik bagi anak hingga berusia 2 tahun melalui ASI eksklusif. ASI sangatlah penting untuk mendukung perkembangan otak dan menjaga kesehatan karena mengandung kolostrum sebagai antibodi alami yang membuat anak tidak mudah sakit.

3. Rutin Periksa Kesehatan Ibu dan Bayi

Sejak masa kehamilan, ibu sebaiknya rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan atau bidan terdekat minimal enam kali. Pemeriksaan rutin ini sangat penting untuk memantau perkembangan janin dan mendeteksi dini apabila ada gangguan kesehatan yang ibu maupun bayi alami dalam kandungan.

Setelah bayi lahir, pemeriksaan rutin tetap dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan anak, terutama tinggi dan berat badannya. Hal ini karena indikator stunting dapat terlihat dari tinggi dan badan anak yang tidak sesuai usianya.

4. Memberi MPASI yang Kaya Nutrisi

Menginjak usia 6 bulan, anak membutuhkan tambahan nutrisi dari Makanan Pendamping ASI (MPASI). Anda dapat memberi MPASI dengan tekstur sesuai tahap perkembangan anak yang mengandung lemak, vitamin, mineral, protein, zat besi, zinc, dan omega-3 untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

5. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Stunting tidak hanya soal kekurangan nutrisi, tetapi tumbuh di lingkungan yang tidak sehat. Misalnya, lingkungan dengan sanitasi buruk, minim sinar matahari, dan kurang mendapat akses air bersih. Kondisi ini memicu munculnya penyakit seperti diare dan cacingan yang mana meningkatkan risiko stunting 2,2 kali lebih besar.

Tekan Kasus Stunting di Indonesia dengan Pendidikan Berkualitas

Menekan kasus stunting di Indonesia membutuhkan komitmen kuat dari berbagai pihak, mulai kebijakan pemerintah hingga orang tua dengan memberi pendidikan terbaik untuk anak. Sparks Sports Academy menghadirkan berbagai kelas eksklusif untuk mendukung perkembangan sensorik, motorik, kognitif, sosial, dan emosional anak untuk mempersiapkan masa depannya.

Bersama tenaga profesional yang berpengalaman, Sparks Sports Academy berkomitmen mendukung tumbuh kembang anak sesuai tahap perkembangannya menggunakan metode bermain menyenangkan. Segera daftar dan dapatkan free trial class sekarang juga!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%