Mengapa Anak Suka Gigit Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Mengapa Anak Suka Gigit? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Table of Contents

Pernahkah Mom/Dad merasa bingung ketika anak tiba-tiba menggigit orang lain, saudara, teman bermain, bahkan dirinya sendiri? Kebiasaan ini tentu dapat membuat orang tua khawatir, terutama jika gigitan menyebabkan rasa sakit atau luka. Tidak sedikit orang tua yang langsung menganggap anak sedang nakal, agresif, atau sengaja ingin menyakiti orang lain. Padahal, perilaku menggigit pada anak dapat muncul karena berbagai alasan dan tidak selalu berarti anak memiliki niat buruk.

Ringkasan Cepat

  • Anak menggigit tidak selalu karena ingin menyakiti orang lain.
  • Rasa frustrasi dan keterbatasan komunikasi dapat memicu perilaku menggigit.
  • Tumbuh gigi dan kebutuhan sensorik juga dapat menjadi salah satu penyebab.
  • Mom/Dad perlu merespons dengan tenang, tegas, dan konsisten.
  • Stimulasi yang sesuai dapat membantu anak belajar mengelola tubuh, emosi, dan perilakunya.

Pertanyaan mengapa anak suka gigit sebenarnya perlu dilihat dari usia, situasi, kemampuan komunikasi, kondisi emosi, hingga kebutuhan sensorinya. Pada usia dini, anak masih belajar mengenali emosi dan mengomunikasikan keinginan. Ketika kemampuan bahasa dan pengendalian dirinya belum berkembang secara optimal, tindakan fisik seperti menggigit dapat menjadi salah satu cara anak menunjukkan rasa frustrasi, marah, takut, lelah, atau tidak nyaman.

Karena itu, Mom/Dad tidak hanya perlu menghentikan perilaku menggigit, tetapi juga memahami pemicunya. Dengan mengetahui penyebabnya, orang tua dapat memberikan respons yang lebih tepat dan membantu anak mempelajari cara lain untuk menyampaikan kebutuhan. Artikel ini akan membahas berbagai alasan anak suka menggigit sekaligus langkah yang dapat dilakukan di rumah agar perilaku tersebut perlahan berkurang.

Mengapa Anak Bisa Memiliki Kebiasaan Menggigit?

Menggigit merupakan salah satu perilaku yang mungkin muncul pada masa perkembangan anak, khususnya ketika kemampuan komunikasi dan pengendalian emosi masih berkembang. Anak kecil belum selalu mampu mengatakan, “Aku marah,” “Aku tidak suka,” atau “Tolong jangan ambil mainanku.” Akibatnya, perasaan tersebut bisa muncul dalam bentuk perilaku fisik.

Pada beberapa anak, menggigit juga berkaitan dengan eksplorasi. Anak usia bayi dan balita mengenal lingkungan melalui berbagai indera, termasuk mulut. Mereka mungkin memasukkan benda ke mulut atau menggigit sesuatu untuk mengetahui tekstur dan sensasinya.

Namun, ketika anak sudah lebih besar dan kemampuan komunikasinya semakin berkembang, kebiasaan menggigit perlu diamati lebih lanjut. Mom/Dad dapat memperhatikan kapan anak menggigit, siapa yang menjadi sasaran, apa yang terjadi sebelum gigitan, serta bagaimana respons lingkungan setelah kejadian tersebut.

Pola tersebut dapat membantu orang tua menemukan pemicu. Misalnya, anak selalu menggigit ketika mainannya direbut. Artinya, masalah mungkin berkaitan dengan frustrasi dan kemampuan menyelesaikan konflik. Jika anak menggigit ketika suasana terlalu ramai, bisa jadi ia sedang kewalahan dengan stimulasi di sekitarnya.

UPMC Health Beat juga menjelaskan bahwa anak kecil dapat menunjukkan perilaku seperti menggigit ketika frustrasi karena kemampuan pengendalian dirinya masih berkembang. Orang tua disarankan mengajarkan alternatif perilaku dan memberikan contoh cara mengekspresikan emosi tanpa menyakiti orang lain.

10 Penyebab Mengapa Anak Suka Gigit

Ada berbagai kemungkinan yang dapat menjawab pertanyaan mengapa anak suka gigit. Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga Mom/Dad perlu melihat perilakunya secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu kejadian.

1. Anak Belum Mampu Mengungkapkan Emosi

Salah satu penyebab paling umum adalah kemampuan komunikasi yang belum sejalan dengan perkembangan emosinya. Anak mungkin merasakan marah, kecewa, kesal, takut, atau cemburu, tetapi belum mampu mengungkapkannya menggunakan kata-kata.

Contohnya, seorang anak sedang bermain dengan mobil-mobilan. Kemudian temannya mengambil mainan tersebut. Anak merasa tidak terima, tetapi belum mampu mengatakan, “Aku masih mau bermain dengan mobil itu.” Akhirnya, ia menggigit temannya.

Dalam kondisi seperti ini, gigitan dapat menjadi bentuk komunikasi yang belum tepat. Mom/Dad perlu membantu anak mengenali kata-kata sederhana seperti “tidak mau”, “gantian”, “punya aku”, “berhenti”, atau “aku marah”.

Semakin banyak kosakata yang dapat digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan, semakin banyak pilihan komunikasi yang dimiliki anak selain menggunakan tindakan fisik.

2. Anak Sedang Frustrasi

Rasa frustrasi dapat menjadi pemicu perilaku menggigit. Anak mungkin kesulitan memasang puzzle, tidak mendapatkan mainan yang diinginkan, atau tidak diperbolehkan melakukan sesuatu. Bagi orang dewasa, masalah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak, situasi tersebut dapat terasa sangat besar.

Anak yang belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang mungkin langsung bereaksi menggunakan tubuh. Karena itu, ketika anak menggigit saat kecewa, Mom/Dad dapat membantu dengan mengatakan, “Kamu kesal karena mainannya diambil. Kamu boleh bilang tidak mau, tetapi tidak boleh menggigit.”

Respons tersebut membantu anak memahami dua hal sekaligus: emosinya boleh dirasakan, tetapi perilaku menyakiti orang lain tetap memiliki batas.

3. Sedang Tumbuh Gigi

Pada bayi dan anak usia tertentu, kebutuhan menggigit dapat berhubungan dengan proses tumbuh gigi. Gusi yang terasa tidak nyaman dapat membuat anak ingin menggigit sesuatu untuk memperoleh sensasi tekanan.

Dalam situasi ini, perilaku menggigit tidak selalu berkaitan dengan kemarahan atau masalah perilaku. Anak mungkin hanya sedang mencari cara untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada mulut.

Mom/Dad dapat menyediakan benda yang aman sesuai usia anak untuk digigit dan memastikan benda tersebut memang dirancang untuk kebutuhan tersebut. Hindari memberikan benda kecil, keras, mudah pecah, atau berisiko tertelan.

Jika Mom/Dad melihat gejala yang tidak biasa atau anak tampak sangat kesakitan, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter anak atau dokter gigi anak.

4. Anak Mencari Sensasi Sensorik

Anak mendapatkan informasi mengenai lingkungan melalui berbagai sistem sensorik. Mulut juga memiliki banyak reseptor sehingga aktivitas menggigit dapat memberikan sensasi tertentu.

Beberapa anak mungkin menyukai tekanan pada rahang atau sensasi mengunyah. Akibatnya, anak bisa mencari kesempatan untuk menggigit benda, pakaian, mainan, atau bahkan orang lain. Hal ini tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan tertentu. Kebutuhan sensorik setiap anak memang dapat berbeda.

Mom/Dad dapat mengamati apakah anak sering mencari aktivitas seperti mengunyah, memasukkan benda ke mulut, menggigit pakaian, atau memberikan tekanan kuat pada rahang. Pengamatan tersebut dapat menjadi informasi penting untuk menentukan jenis aktivitas yang sesuai.

5. Anak Meniru Perilaku Orang Lain

Anak belajar melalui pengamatan. Jika anak pernah melihat orang lain menggigit sebagai bagian dari permainan atau bercanda, ia mungkin mencoba menirunya tanpa memahami bahwa tindakan tersebut dapat menyakiti.

Misalnya, anak melihat kakaknya menggigit boneka dan kemudian ikut melakukannya. Atau anak melihat teman bermain bercanda dengan menggigit tangan.

Pada tahap ini, orang dewasa perlu memberikan penjelasan sederhana mengenai batas perilaku. Mom/Dad dapat mengatakan, “Menggigit bisa membuat orang sakit. Kalau ingin bercanda, kita bisa tos atau peluk.” Memberikan alternatif yang konkret biasanya lebih mudah dipahami daripada sekadar mengatakan “jangan”.

6. Anak Menginginkan Perhatian

Perilaku menggigit terkadang mendapatkan respons yang sangat besar dari lingkungan. Orang dewasa mungkin langsung berteriak, memeluk korban, memarahi anak, atau menghentikan seluruh aktivitas. Bagi anak, perhatian sebesar itu dapat menjadi sesuatu yang menarik, meskipun perhatian tersebut negatif.

Ini bukan berarti anak sengaja merencanakan perilaku buruk. Anak hanya dapat belajar bahwa menggigit menghasilkan reaksi yang kuat.

Karena itu, Mom/Dad perlu memberikan respons yang singkat dan tegas. Setelah memastikan korban aman, arahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan berikan pujian ketika anak berhasil menggunakan cara yang lebih baik.

7. Anak Sedang Lelah atau Lapar

Kondisi fisik dapat memengaruhi kemampuan anak mengendalikan emosi. Anak yang mengantuk, lapar, terlalu lelah, atau terlalu banyak mendapatkan aktivitas dapat menjadi lebih mudah frustrasi.

Misalnya, biasanya anak mampu berbagi mainan dengan saudara. Namun ketika sudah sangat lelah, ia lebih mudah menangis, merebut benda, memukul, atau menggigit.

Mom/Dad dapat mencatat kapan perilaku menggigit paling sering muncul. Jika ternyata gigitan sering terjadi menjelang tidur atau ketika anak belum makan, kebutuhan dasar mungkin menjadi salah satu pemicunya. Menjaga rutinitas tidur, makan, istirahat, dan aktivitas dapat membantu mengurangi situasi yang membuat anak mudah kehilangan kendali.

8. Anak Kesulitan Menghadapi Perubahan

Anak dapat merasa tidak nyaman ketika rutinitas berubah secara tiba-tiba. Pergantian aktivitas, tempat baru, orang baru, atau aturan baru dapat memicu stres.

Contohnya, anak sedang asyik bermain kemudian tiba-tiba diminta berhenti untuk mandi. Jika anak belum siap berpindah aktivitas, ia dapat menunjukkan penolakan melalui tangisan, berteriak, memukul, atau menggigit.

Mom/Dad dapat memberikan pemberitahuan sebelum perubahan terjadi.

Misalnya, “Lima menit lagi kita berhenti bermain dan bersiap mandi.”

Dengan demikian, anak mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan.

9. Anak Belum Menguasai Kemampuan Berbagi dan Bergiliran

Konflik antaranak sering muncul karena kemampuan berbagi dan menunggu giliran belum matang. Anak mungkin ingin mendapatkan mainan yang sama dengan temannya. Jika ia belum mengetahui cara meminta atau menunggu, tindakan menggigit bisa terjadi.

Mom/Dad dapat melatih konsep bergiliran melalui permainan sederhana. Gunakan kalimat seperti, “Sekarang giliran kamu, setelah itu giliran Kakak.”

Latihan seperti ini sebaiknya dilakukan ketika anak sedang tenang, bukan hanya setelah ia menggigit. Dengan begitu, anak dapat memahami aturan sebelum menghadapi situasi konflik yang sebenarnya.

10. Anak Mengalami Kelebihan Stimulasi

Lingkungan yang terlalu ramai dapat membuat sebagian anak merasa kewalahan. Suara keras, banyak orang, cahaya, sentuhan, gerakan, dan aktivitas yang datang bersamaan dapat membuat anak lebih sulit mengatur responsnya.

Jika Mom/Dad melihat anak lebih sering menggigit ketika berada di tempat ramai, pusat bermain, acara keluarga, atau lingkungan dengan banyak suara, perhatikan kemungkinan adanya overstimulation. Memberikan waktu istirahat di tempat yang lebih tenang dapat membantu anak kembali merasa nyaman.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Suka Muter Muter agar Tetap Aman dan Sehat

Cara Mengatasi Anak Suka Gigit

Setelah mengetahui beberapa kemungkinan penyebabnya, langkah berikutnya adalah membantu anak mengganti kebiasaan menggigit dengan perilaku yang lebih aman.

1. Hentikan Gigitan dengan Tenang

Ketika anak menggigit, segera hentikan perilaku tersebut. Gunakan kalimat singkat seperti, “Tidak boleh menggigit. Menggigit membuat orang sakit.” Hindari memberikan ceramah panjang ketika anak masih sangat emosi. Pada saat itu, kemampuan anak untuk menerima banyak informasi biasanya tidak optimal.

2. Tetapkan Batas yang Konsisten

Aturan mengenai menggigit perlu diterapkan secara konsisten oleh Mom/Dad, pengasuh, guru, maupun anggota keluarga lainnya. Jika hari ini menggigit dianggap tidak boleh tetapi besok dianggap lucu, anak akan mendapatkan pesan yang membingungkan.

American Academy of Pediatrics menganjurkan penggunaan aturan yang jelas dan konsisten serta mengajarkan perilaku yang diharapkan melalui contoh.

3. Ajarkan Alternatif untuk Mengungkapkan Emosi

Jangan hanya mengajarkan apa yang tidak boleh dilakukan. Anak juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan sebagai gantinya.

Ajarkan kalimat sederhana seperti:

  • “Aku tidak suka.”
  • “Berhenti.”
  • “Aku masih mau.”
  • “Tolong.”
  • “Aku marah.”
  • “Gantian, ya.”
  • “Aku mau sendiri.”

Sesuaikan pilihan kata dengan kemampuan bahasa anak.

4. Bantu Anak Mengenali Perasaannya

Ketika anak mulai marah, Mom/Dad dapat membantu memberi nama pada emosinya.

Contohnya, “Kamu kecewa karena mainannya diambil.”

Tujuannya bukan untuk membenarkan gigitan, melainkan membantu anak memahami bahwa emosi dapat diberi nama dan dikomunikasikan. Seiring waktu, anak akan memiliki lebih banyak pilihan untuk menyampaikan perasaan.

5. Berikan Perhatian pada Perilaku Positif

Perhatikan saat anak berhasil menyelesaikan konflik tanpa menggigit. Berikan pujian yang spesifik.

Contohnya, “Mom lihat kamu tadi bilang ‘gantian’ daripada merebut. Itu cara yang bagus.”

Pujian seperti ini membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan.

Pendekatan dengan memperkuat perilaku positif juga sejalan dengan panduan American Academy of Pediatrics yang menekankan pentingnya memberikan perhatian dan pujian terhadap perilaku baik.

6. Cari Pola Sebelum Gigitan Terjadi

Mom/Dad dapat membuat catatan sederhana:

Sebelum menggigit: Apa yang terjadi?

Saat menggigit: Siapa yang digigit dan bagaimana kondisinya?

Setelah menggigit: Respons orang lain seperti apa?

Catatan tersebut dapat membantu menemukan pola yang sebelumnya tidak terlihat.

Misalnya, gigitan selalu muncul ketika anak berebut mainan. Berarti latihan berbagi dan bergiliran dapat menjadi fokus utama.

7. Sediakan Aktivitas yang Sesuai dengan Kebutuhan Anak

Jika anak tampak sering mencari sensasi melalui mulut atau tubuh, berikan aktivitas yang sesuai dengan usianya dan aman. Aktivitas fisik, permainan gerak, eksplorasi tekstur, permainan koordinasi, dan kegiatan yang melibatkan tubuh dapat menjadi bagian dari rutinitas stimulasi anak.

Namun, aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individual anak, bukan diberikan secara acak hanya karena anak memiliki kebiasaan menggigit.

8. Jangan Membalas Gigitan dengan Gigitan

Membalas anak dengan menggigit tidak mengajarkan cara menyelesaikan masalah. Anak justru dapat menangkap pesan bahwa menggigit merupakan cara yang diperbolehkan ketika seseorang marah.

Mom/Dad dapat tetap tegas tanpa melakukan kekerasan.

Kalimat sederhana seperti, “Mom tidak akan membiarkan kamu menggigit. Kita akan berhenti dulu sampai kamu tenang,” dapat digunakan sambil memastikan anak dan orang lain tetap aman.

9. Ajarkan Penyelesaian Konflik melalui Bermain

Gunakan permainan peran untuk mengajarkan cara menghadapi situasi yang biasanya memicu gigitan. Misalnya, Mom menjadi anak yang mengambil mainan, sedangkan anak belajar mengatakan, “Aku belum selesai bermain.” Kemudian tukar peran. Cara ini membuat anak berlatih ketika kondisi emosinya masih stabil sehingga lebih mudah menggunakannya dalam situasi nyata.

10. Berikan Waktu untuk Belajar

Perubahan perilaku tidak selalu terjadi setelah satu atau dua kali nasihat. Anak membutuhkan pengulangan. Jika anak kembali menggigit, Mom/Dad tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa semua latihan gagal. Kembali lakukan respons yang sama secara tenang dan konsisten.

Kapan Kebiasaan Menggigit Perlu Mendapat Perhatian Lebih Lanjut?

Tidak setiap perilaku menggigit berarti ada masalah perkembangan. Namun, Mom/Dad sebaiknya memperhatikan frekuensi, intensitas, situasi, dan dampaknya.

Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional terkait apabila perilaku menggigit sangat sering, menyebabkan luka berulang, semakin intens, sulit dikendalikan, atau disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan komunikasi, interaksi sosial, kemampuan bermain, atau regulasi perilaku.

Jika gigitan sampai memecahkan kulit, perhatian juga perlu diberikan pada kondisi luka. Sumber dari American Academy of Pediatrics menyarankan agar luka akibat gigitan manusia yang menembus kulit mendapatkan penilaian medis karena terdapat risiko infeksi.

Peran Stimulasi dalam Membantu Anak Mengelola Tubuh dan Emosi

Perilaku anak tidak dapat dilepaskan dari proses perkembangan secara keseluruhan. Kemampuan mengontrol gerakan, mengikuti aturan permainan, berkomunikasi, menunggu giliran, dan merespons lingkungan semuanya membutuhkan latihan.

Stimulasi yang dilakukan melalui permainan dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan berbagai keterampilan tersebut secara menyenangkan. Misalnya, permainan gerak dapat membantu anak belajar mengikuti instruksi. Permainan berkelompok dapat memberikan pengalaman berbagi ruang dan menunggu giliran. Aktivitas sensorik dapat membantu anak mengeksplorasi berbagai pengalaman tubuh secara terarah.

Namun, Mom/Dad tidak perlu menjadikan setiap aktivitas sebagai latihan yang kaku. Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bermain bebas, bereksplorasi, dan menikmati proses.

Yang terpenting adalah memberikan pengalaman yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.

Bagaimana Orang Tua Bisa Membantu Anak Lebih Tenang?

Kemampuan regulasi emosi berkembang secara bertahap. Anak tidak langsung mampu menenangkan diri hanya karena sudah diberi tahu untuk “jangan marah”.

Orang tua dapat menjadi contoh. Ketika Mom/Dad menghadapi situasi yang membuat frustrasi, tunjukkan cara merespons dengan tenang.

Misalnya, “Mom sedang kesal. Mom tarik napas dulu supaya bisa bicara dengan tenang.”

Anak dapat belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditakuti atau ditekan. Emosi dapat dikenali, diterima, kemudian disalurkan melalui cara yang lebih aman.

HealthyChildren.org juga menekankan bahwa anak belajar melalui contoh perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Dengan demikian, ketika Mom/Dad bertanya mengapa anak suka gigit, jawabannya tidak cukup hanya dengan melihat tindakan menggigit itu sendiri. Perlu dilihat apa yang dirasakan anak, apa yang terjadi sebelumnya, kemampuan komunikasi yang dimiliki, serta kebutuhan tubuh dan sensoriknya.

Baca juga: 10 Penyebab Anak Sering Menangis dan Mengamuk dan Cara Mengatasinya

Bantu Anak Berkembang melalui Aktivitas yang Menyenangkan di Sparks Sports Academy

Jika Mom/Dad sedang mencari kegiatan yang dapat membantu anak mengeksplorasi kemampuan sensorik dan motoriknya secara menyenangkan, kelas sensori anak di Sparks Sports Academy dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas yang dapat dipertimbangkan.

Melalui aktivitas yang dirancang untuk anak, stimulasi dapat dilakukan melalui pengalaman bermain yang melibatkan gerakan, eksplorasi, koordinasi, dan berbagai pengalaman sensorik. Pendekatan bermain membantu anak mendapatkan kesempatan untuk belajar sambil tetap menikmati aktivitas.

Kebutuhan setiap anak tentu berbeda. Karena itu, Mom/Dad dapat mengamati kemampuan dan respons anak selama mengikuti kegiatan. Tujuannya bukan sekadar menghilangkan kebiasaan menggigit, tetapi membantu anak membangun kemampuan yang lebih luas, seperti mengenali tubuh, mengikuti arahan, berinteraksi, mengelola respons, dan mencoba cara baru dalam menghadapi situasi.

Yuk, Dampingi Anak Menemukan Cara yang Lebih Tepat untuk Bereaksi

Menjawab pertanyaan mengapa anak suka gigit membutuhkan kesabaran dan pengamatan. Kebiasaan menggigit dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari keterbatasan komunikasi, frustrasi, tumbuh gigi, kebutuhan sensorik, kelelahan, hingga kesulitan menghadapi perubahan. Karena itu, respons yang tepat bukan sekadar memarahi anak, tetapi mencari pemicu dan mengajarkan alternatif perilaku.

Mom/Dad dapat mulai dengan menetapkan batas yang jelas, menggunakan kalimat sederhana, membantu anak mengenali emosi, memberikan contoh komunikasi yang baik, serta memberikan apresiasi ketika anak berhasil menggunakan cara yang lebih tepat. Jika perilaku menggigit semakin sering, menyebabkan luka, atau disertai kekhawatiran perkembangan lainnya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Untuk membantu memberikan pengalaman stimulasi yang menyenangkan dan sesuai kebutuhan anak, Mom/Dad dapat mempertimbangkan kelas sensori anak di Sparks Sports Academy. Dengan aktivitas bermain yang terarah, anak mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi tubuh, lingkungan, dan berbagai pengalaman sensorik sambil mengembangkan keterampilan secara bertahap.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa anak suka gigit?

Anak dapat menggigit karena frustrasi, belum mampu berkomunikasi, tumbuh gigi, mencari sensasi sensorik, lelah, atau meniru perilaku orang lain.

Apakah anak menggigit berarti nakal?

Tidak selalu. Menggigit merupakan perilaku yang perlu diarahkan, tetapi penyebabnya perlu dipahami terlebih dahulu.

Bagaimana cara menghentikan anak yang suka menggigit?

Hentikan dengan tenang, berikan batas yang jelas, lalu ajarkan cara lain untuk mengungkapkan keinginan atau emosi.

Apakah kebutuhan sensorik bisa menyebabkan anak menggigit?

Bisa. Sebagian anak mencari sensasi tekanan atau rangsangan tertentu melalui aktivitas menggigit.

Bolehkah memarahi anak saat menggigit?

Mom/Dad sebaiknya tetap tegas tanpa berteriak atau melakukan kekerasan. Jelaskan bahwa menggigit tidak boleh dilakukan dan ajarkan alternatifnya.

Kapan anak yang suka menggigit perlu diperiksa?

Pertimbangkan konsultasi jika gigitan sangat sering, menyebabkan luka berulang, semakin intens, sulit dikendalikan, atau disertai kekhawatiran perkembangan lainnya.

Apakah kelas sensori dapat membantu anak?

Kelas sensori dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas untuk membantu anak mengeksplorasi tubuh, gerakan, lingkungan, dan pengalaman sensorik secara terarah sesuai kebutuhan anak.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%